Tolong Kami! Jembatan Putus, Macet, Luwu Terancam Lumpuh

- HeraldNews
  • Bagikan
Jembatan Desa Taba, Kecamatan Welanrang Timur, Luwu juga rubuh Senin malam, 8 November 2021 membuat akses putus.--Foto; Netizen

HERALD.ID, MAKASSAR— Akses Trans Sulawesi jalur Palopo-Luwu makin memprihatinkan. Akses utama, Jembatan Salubattang sudah tutup.

Parahnya, Jembatan Desa Taba, Kecamatan Welanrang Timur, Luwu juga rubuh Senin malam, 8 November. Padahal jembatan ini adalah jalur alternatif dari Palopo menuju Luwu Utara dan Luwu Timur yang terpaksa dilalui setelah akses utama tak bisa dilalui.

Kini tersisa satu jalur alternatif untuk akses perbatasan Palopo-Luwu yakni lewat samping SPBU Padang Alipan tembus permandian Batu Papan, lalu ke Pentojangan. Kemudian masuk ke Tombang Walenrang Luwu, dan keluar di Pasar Karetan. Jaraknya mencapai 20 kilometer.

Warga Masamba, Mahmuddin mengatakan, dia terpaksa melewati jalur alternatif padang Alipan, “Tapi saya terjebak macet sekitar 10 jam di Padang Lambe dan Tombang. Belum lagi kondisi jalan sangat memprihatinkan.

Awalnya memang jalannya sangat mulus, aspal hotmix, sekalipun ruas jalan sangat sempit, dan pendakian. Jalan mulus itu hanya sekira 8 kilometer, kendaraan juga harus berbelok tajam, lalu menyeberangi jembatan beton kecil dekat Panampungan Air PDAM. Lalu jalan sudah mulai berlubang dan berlumpur.

“Di sinilah antrean panjang dimulai. “Saya menunggu sekira 2 jam baru kendaraan saya bisa bergerak di lokasi itu., Lalu kemudian bergerak merayap, berhenti lagi, tapi lebih banyak berhenti ketimbang berjalan,”paparnya.

Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan ada langkah cepat penanganan masalah ini. Apalagi, kata dia, akan banyak dampak yang ditimbulkan, jika tak segera ada jalan keluarnya. Sebab, jalur alternatif yang lain tidak memadai untuk memaksimalkan lalulintas barang dan jasa. Termasuk sejumlah barang komoditas yang akan sulit mendapatkan akses keluar masuk wilayah Luwu. “Akses jalan alternatif yang sempit. Itu sama saja dengan memperlambat pergerakan barang kebutuhan masyarakat,” kata Indah. (del/hrl)

Silahkan kirim ke email: redaksi@herald.id.
Stay connect With Us :
  • Bagikan