Di Balik Piala Dunia Ada Kegelapan yang Terlampau Hitam

- Bola Dunia
  • Bagikan
Stadion Al Bayt yang menjadi venue Piala Dunia 2022 sedang dalam pembangunan di utara kota Al Khor. Piala Dunia 2022 Qatar rencananya akan dimulai pada 21 November hingga 18 Desember. (Qatar’s Supreme Committee for Delivery and Legacy/AFP
Stadion Al Bayt yang menjadi venue Piala Dunia 2022 sedang dalam pembangunan di utara kota Al Khor. Piala Dunia 2022 Qatar rencananya akan dimulai pada 21 November hingga 18 Desember. (Qatar’s Supreme Committee for Delivery and Legacy/AFP

Oleh: Wahyu Gandi

HERALD.ID – Federation Internationale de Football Association (FIFA) adalah federasi sepak bola tertinggi, dengan reputasi mentereng yang menyelenggarakan turnamen sepak bola.

Salah satu produsen event sepak bola terakbar FIFA yakni Piala Dunia. Didirikan pada 1904 dan berbasis di kota Zurich, Swiss, FIFA adalah organisasi nirlaba, menaungi 211 asosiasi nasional, ermasuk di dalamnya PSSI.

FIFA sebagai Organisasi Nirlaba

Di mana mereka diharuskan masuk salah satu dari enam konfederasi regional yang membagi dunia, CAF di Afrika, AFC untuk Asia dan Australia, UEFA di Eropa, CONCACAF di Amerika Utara, Tengah, dan Karibia, CONMEBOL di Amerika Serikat, dan OFC untuk wilayah Oseania.

Meski menyebut diri sebagai organisasi nirlaba, FIFA menjadi salah satu organisasi paling kontroversial di dunia yang melibatkan uang dengan nominal tak main-main. Misalnya, di Piala Dunia 2018, FIFA dalam laporannya menghasilkan pendapatan lebih dari $4,6 miliar.

Benar, bahwa semua turnamen yang diselenggarakan FIFA menghasilkan profit dari sponsor, tetapi berbagai skandal seperti suap, korupsi, hingga intrik-intrik politik telah mengiringi perjalanan organisasi ini selama berdekade-dekade.

Kendati menginvestasikan sebagian besar pendapatannya kembali ke pengembangan sepak bola, perusahaan event olahraga ini bukanlah entitas yang suci, bebas dari sisi gelap, serta segala bentuk kejahatan yang subtil, termasuk produk budaya populer Piala Dunia.

Mengutip laman resminya, tertulis bahwa FIFA ada untuk mengatur sepak bola dan mengembangkan olahraga tersebut di seluruh dunia. Diperjelas lagi, bahwa sejak 2016, organisasi telah berkembang pesat menjadi badan yang dapat lebih efektif melayani urusan sepak bola untuk kepentingan seluruh dunia.

Ada dua hal yang menarik digarisbawahi. Pertama, “tahun 2016” dan kedua” untuk kepentingan seluruh dunia”. Di sini, terlihat suatu hal yang janggal. Apa yang dilakukan FIFA sebelum tahun 2016? Inklusifitas apakah yang FIFA maksud?

Pertanyaan kecil ini akan membawa kita pada lapis kenyataan yang mungkin enggan diabaikan, yakni organisasi sekelas FIFA dengan produk Piala Dunia-nya, nyatanya bukan semata urusan sepak bola atau permainan selama 90 menit plus di atas lapangan hijau. Ia lebih kompleks dari yang terlihat atau yang kita pikirkan.

Piala Dunia Anti-Diskriminasi

Silahkan kirim ke email: [email protected].
Stay connect With Us :
  • Bagikan