HERALD.ID, JAKARTA—Wakil Ketua DPR RI Bidang Korinbang Rachmat Gobel mengingatkan masyarakat untuk waspada atas money politics menjelang pemilu. Menurutnya, serangan fajar tidak boleh terjadi dalam pesta demokrasi.

“Itu tidak boleh. Itu namanya mea-mea,” katanya di Gorontalo, sambil menyebutkan istilah dalam Bahasa Gorontalo untuk merah-merah, yaitu warna uang bernominal Rp100 ribu.

Menurutnya, jika masyarakat menerima uang di pemilu, maka mereka telah menjual haknya. Selain itu, ia mengatakan politik uang merendahkan martabat manusia.

“Itu sama artinya merendahkan martabat kita di hadapan Tuhan. Padahal saat lahir kita diazankan di telinga kanan dan diqomatkan di telinga kiri. Kita sudah dimuliakan oleh orangtua kita,” tegasnya dikutip dari dpr.go.id.

Gobel menegaskan, jika masyarakat menolak money politics, maka mereka berhak menagih janji seorang politisi.

“Karena itu, setiap tahun, saya bisa lebih dari 12 kali ke Gorontalo. Bahkan bisa 17 kali. Saya mempertanggungjawabkan tugas dan kewajiban saya selaku anggota DPR. Saya menyerap dan memperjuangkan aspirasi masyarakat Gorontalo. Setiap datang, bukan sehari, tapi bisa satu minggu berkeliling menemui masyarakat,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, Gobel juga mengingatkan tentang peluang besar bagi Gorontalo untuk maju lebih cepat. Menurutnya, pembangunan Ibukota Negara di Kalimantan akan memiliki dampak besar bagi wilayah di sekelilingnya, termasuk Gorontalo.

“Visi Bapak Presiden Jokowi ini harus ditangkap sebagai peluang besar untuk melakukan akselerasi pembangunan di wilayah Gorontalo,” katanya.

Pada Minggu kemarin, Gobel melakukan empat kegiatan. Termasuk, sosialisasi tentang transaksi non-tunai bagi pedagang pasar. Acara yang berlangsung di Pasar Sentral, Kota Gorontalo itu, merupakan kerja sama antara Yayasan Cahaya Rakyat Gorontalo dan Bank Indonesia.

Di acara itu, mereka menyosialisasikan fitur QRIS, Quick Response Code Indonesia Standard. “Untuk transaksi jual-beli tak perlu membawa uang tunai. Cukup dengan membuka aplikasi mobile banking lalu manfaatkan fitur QRIS,” katanya.

Ia juga melakukan sosialisasi tentang bahaya investasi bodong. Acara ini diikuti para pelaku usaha dan masyarakat umum. Kegiatan ini merupakan kerja sama Yayasan Cahaya Rakyat Gorontalo dan Otoritas Jasa Keuangan.

Kegiatan lainnya adalah melakukan peninjauan ke Lembaga Pemasyarakatan Gorontalo. Gobel menyemangati para narapidana untuk bisa bangkit. “Tak ada orang yang ingin masuk ke sini. Itu pasti karena khilaf,” katanya. (*)